Rabu, 13 Juni 2012

STROKE


INILAH.COM, Jakarta- Bekerja pada malam hari dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke lebih besar 40% bagi pelakunya. Itu temuan dari 34 penelitian terhadap dua juta orang.

Temuan penelitian itu sudah dipublikasikan dalam situs British Medical Journal, seperti dilansir dari dailymail.

Bekerja pada malam hari telah lama diketahui mengganggu kinerja tubuh yang dikaitkan dengan penyakit tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan diabetes, namun dampak keseluruhan pada kesehatan kardiovaskular masih belum jelas.

Sebuah tim peneliti internasional menganalisis hasil dari 34 penelitian yang melibatkan 2.011.935 orang untuk menyelidiki apakah kerja shift dikaitkan dengan kejadian vaskular utama.

Shift kerja malam didefinisikan sebagai jam kerja yang tidak teratur atau tidak ditentukan, jadwal campuran. Penelitian juga melibatkan pekerja di bukan di malam hari untuk mendapat perbandingan.

Hasilnya, secara keseluruhan, yaitu sebanyak 17.359 memiliki koroner, sebanyak 6.598 mengalami serangan jantung dan 1.854 mengalami stroke iskemik disebabkan oleh kekurangan darah ke otak.

Sejumlah kejadian ini lebih umum di antara pekerja normal lainnya.
Kerja shift dikaitkan dengan 23% peningkatan risiko serangan jantung, 24% kenaikan kejadian koroner dan lima persen stroke ekstra.

Namun tidak ditemukan bekerja malam berkaitan dengan tingkat kematian yang disebabkan oleh sejumlah penyakit itu.

Daniel Hackam, farmakolog Klinis, Pencegahan Stroke & Pusat Penelitian Aterosklerosis (SPARC), London, Ontario, Kanada, mengatakan risiko relatif mungkin muncul sederhana, tapi jutaan orang yang kerja shift memiliki risiko tinggi.

Dia mengatakan program skrining dapat membantu mengidentifikasi dan mengobati faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol.

'Pekerja shift harus dididik tentang gejala kardiovaskular dalam upaya untuk mencegah atau menghindari manifestasi klinis awal penyakit," tambahnya.

Penelitian sebelumnya menemukan hubungan antara shift malam dan peningkatan risiko kanker payudara pada wanita.

Pusat Keselamatan Eksekutif dan Kesehatan di Inggris telah menugaskan peneliti di Oxford untuk mengeksplorasi hubungan antara penyakit kronis dan shift kerja, yang diharapkan akan selesai pada Desember 2015.

Dr Peter Coleman, Wakil Direktur Asosiasi Stroke Riset mengatakan "Itu fakta yang terkenal bahwa jam kerja tidak teratur bisa berdampak buruk bagi kesehatan kita. Ini mengganggu jam tubuh dan seringkali dihubungkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan diabetes, yang semuanya merupakan faktor risiko stroke.” [mor]

Jakarta, Selain harus begadang, pekerja shift malam seringkali menghabiskan waktunya untuk minum kopi agar membuatnya tetap terjaga. Selain itu, menurut sebuah studi baru, pekerja shift malam berisiko terkena serangan jantung atau stroke lebih besar dibandingkan pekerja lainnya.

Sebuah analisis terhadap studi yang melibatkan 2 juta pekerja di Inggris ini menyatakan bahwa pekerjaan yang menggunakan sistem shift dapat mengganggu jam tubuh (body clock) dan menimbulkan efek merugikan terhadap gaya hidup pekerja itu sendiri. Sebelumnya hal ini juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan diabetes.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, tim peneliti dari Kanada dan Norwegia telah menganalisis 34 studi. Secara total ditemukan 17.359 kasus yang berkaitan dengan koroner, termasuk 6.598 serangan jantung dan 1.854 stroke yang disebabkan kurangnya asupan darah ke otak. Kondisi ini pun ternyata lebih banyak ditemukan pada pekerja shift malam dibandingkan pekerja lainnya.

Setelah mempertimbangkan status sosioekonomi, pola makan dan kondisi kesehatan pekerja secara umum, studi ini juga menemukan bahwa pekerjaan yang melibatkan shift malam dikaitkan dengan 23 persen peningkatan risiko serangan jantung, 24 persen risiko gangguan koroner dan 5 persen risiko stroke. Beruntung peneliti tidak menemukan adanya peningkatkan angka kematian akibat gangguan jantung dari kondisi ini.

"Pekerja shift malam lebih rawan memiliki pola tidur dan pola makan yang buruk. Mereka harus terjaga sepanjang waktu dan tidak memiliki periode istirahat yang jelas. Mereka berada dalam kondisi aktivasi sistem saraf perpetual yang buruk bagi hal-hal seperti obesitas dan kolesterol," ujar Dan Hackam, salah satu peneliti dari Western University, London Ontario, Kanada seperti dilansir dari BBC, Jumat (27/7/2012).

Oleh karena itu peneliti menyarankan dilakukannya skrining terhadap pekerja yang sering mendapat jatah shift malam untuk membantu mengidentifikasi dan mengatasi faktor risikonya seperti tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol. Selain itu, pekerja juga bisa dididik tentang bagaimana mengenali gejala-gejala yang mengindikasikan masalah jantung dini.

Menanggapi hal ini, Jane White, manajer layanan informasi dan penelitian di Institution of Occupational Safety and Health mengatakan bahwa ada berbagai isu yang kompleks di seputar pekerja shift malam.

"Pekerjaan semacam ini sering dikaitkan dengan gangguan selera makan dan pencernaan, ketergantungan pada obat penenang atau stimulan, begitu juga dengan masalah rumah tangga dan sosial. Kalau tidak diatasi, hal ini justru akan mempengaruhi kinerja dan meningkatkan kecenderungan untuk melakukan kesalahan dan kecelakaan kerja, bahkan berdampak negatif pada kesehatan pekerja," jelasnya.

"Solusinya, hindari shift malam secara permanen, batasi shift maksimal 12 jam dan pastikan pekerja mendapatkan jatah tidur penuh minimal selama dua malam. Meskipun tampak sepele, solusi-solusi praktis ini dapat membantu orang-orang untuk menghadapi shift malamnya," pungkasnya.

Studi ini telah dipublikasikan dalam British Medical Journal.
(ir/ir)

VIVAlife - Apakah kantor Anda memberlakukan kerja shift? Sebuah studi mengungkap bahwa bekerja dengan sistem shift berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Dikutip Daily Mail, studi yang dipublikasikan di situs Jurnal Kesehatan Inggris bmj.com, itu memperingatkan bahwa mereka yang terbiasa kerja dengan sistem shift memiliki risiko 41 persen mengalami penyakit jantung dan stroke.

Mereka umumnya juga rentan mengembangkan perilaku tidak sehat seperti konsumsi junk food, pola tidur buruk, dan malas berolahraga. Yang semua itu terkait dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan kardiovaskuler.

Studi dilakukan dengan menganalisis hasil 34 penelitian terdahulu yang melibatkan 2.011.935 responden, yang terbiasa berkerja dengan sistem shift. Hampir 25 persen di antaranya mulai memperlihatkan gejala mengembangkan dua penyakit kronis tersebut.

Studi sengaja dilakukan untuk memperjelas efek buruk kerja shift terhadap kesehatan kardiovaskuler secara keseluruhan. Menyempurnakan studi terdahulu yang menyebut kerja shift berpotensi merusak jam biologis: memicu tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes.

Yang masuk kategori kerja shift adalah mereka yang memiliki jadwal kerja malam, jadwal kerja shift yang tidak teratur, serta jadwal shift rotasi malam dan siang. Yang menjadi pembanding adalah mereka yang memiliki jadwal kerja normal dari pagi hingga sore.

Daniel Hackam, farmakolog Klinis dari Pusat Penelitian Pencegahan Stroke & Atherosclerosis (SPARC), London, Inggris, dan Ontario, Kanada, mengatakan, studi ini hendaknya menjadi peringatan bagi mereka yang terbiasa bekerja dengan sistem shift untuk lebih peduli dengan kesehatan.

"Pekerja dengan sistem shift sebaiknya harus lebih memahami tentang gejala-gejala penyakit kardiovaskular sebagai upaya pencegahan dini, selain tentunya harus lebih rajin melakukan pemeriksaan kesehatan rutin," ujar Hackam. (umi)

Baca juga hasil penelitian terdahulu: Shift Malam Rusak Jam Biologis Tubuh

JOGJA—Salah satu penelitian menyebutkan kerja shift memicu peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.
Seperti dilansir ITV News, Jumat (27/7), pola kerja shift diketahui berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah, tingkat kolesterol dan diabetes, meski sejumlah pakar tidak sepakat hal itu berhubungan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Namun pada penelitian terbaru yang melibatkan dua juta orang diketahui serangan jantung dan stroke kerap dialami para pekerja shift. Menurut penelitian tersebut, risiko serangan jantung meningkat hingga 23%, sementara risiko stroke naik 5%.
“Kerja shift berhubungan dengan aktivitas vaskular, yang berdampak pada masyarakat,” ujar Dr Daniel Hackam dari Western University Kanada.(ali)
Baca Juga:
RISIKO SERANGAN JANTUNG Menurun di Bulan Puasa…
KECELAKAAN: Sakit Jantung Kumat, Warga Klaten Tewas Saat Menyetir
Walah, Sumanto Tewas Seusai Meneguk Es Kelapa Muda
SERANGAN JANTUNG: Pedagang Kacamata Meninggal di Pasar
POLISI MENINGGAL: Sedang Bersaksi di Pengadilan, Anggota Sat Narkoba Tewas

Jakarta (ANTARA News) - Pekerja malam  mempunyai risiko serangan jantung lebih besar ketimbang pekerja di siang hari.

Berdasarkan penelitian British Medical Journal sebagaimana dilaporkan BBC, bekerja di malam hari bisa mengganggu jam istirahat pada tubuh dan berpengaruh pada gaya hidup seseorang.

Bekerja di malam hari juga beresiko meningkatkan tekanan darah dan diabetes.

"Salah satu cara mengurangi berbagai resiko penyakit terrsebut adalah dengan mengurangi bekerja di malam hari."

Peneliti tergabung dalam peneliti dari Canada dan Norwegia dengan menganalisa 34 kasus.

Totalnya terdapat 17.359 kasus jantung koroner, termasuk 6.598 serangan jantung dan 1.854 kasus orang terkena stroke karena  otak kekurangan darah.

Mayoritas dari penderita penyakit tersebut merupakan pekerja malam.

Manurut hasil penelitian British Medical Journal, bekerja di malam hari bisa meningkatkan 23 persen serangan jantung, 24 persen jantung koroner dan 5 persen resiko terkena stroke.

Namun, penelitian ini tidak mengikutsertakan tingkat kematian karena serangan jantung akibat dari seringnya bekerja pada malam hari.

Penelitian diambil dari status sosial ekonomi dari pekerja malam, termasuk daftar diet dan trek kesehatan.

Professor dari Western University, London Ontario di Canada Dan Hackam mengatakan pekerja malam cenderung untuk tidur dan makan lebih banyak.

"Pekerja malam sering terbangun tiap saat dan tidak memiliki jadwal tidur yang cukup. Kebanyakan dari mereka berpotensi gugup. Ini bisa memicu obesitas dan kolesterol," kata dia seperti dikutip BBC.

Sementara itu, peneliti dari Institusi Kesehatan dan Keamanan Jane White mengatakan ada masalah kompleks yang mengelilingi pekerja malam.

"Seperti napsu makan meningkat, ketergantungan pada obat penenang dan stimulan serta masalah sosial dan domestik."

"Ini bisa mempengaruhi kinerja, meningkatkan kesahalan dan kecelakaan kerja bahkan memiliki efek negatif pada kesehatan."

Oleh karena itu, efek bekerja di malam hari harus diatur dan dikurangi.

"Hindari kerja malam tiap hari dan usahakan tidur 12 jam setelah malam bergadang. Solusi sederhana seperti ini bisa membantu mereka yang sering bekerja di malam hari."

(tri)
Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar